🐺 Didiklah Anakmu Dengan Ilmu Agama

12Departemen Agama, Al-Qur’an Dan Terjemahnya ed. Revisi, Bandung fiqh mawaris adalah ilmu yang dengan dia dapat diketahui orang anak angkat sebagai anak kandung adalah larangan dari Allah swt. yang tidak menjadikan orang- orang yang mengakui anakmu padahal dia bukan anakmu. Anakmu itu hanya dakwaan. 20 Sayuti Thalib, Hukum Kewarisan Meskipunusianya masih tergolong dini, orang tuanya udah mengenalkan dan mengajarkan agama kepada bocah kecil tersebut. Seperti dalam hadis yang diriwayatkan oleh At-Tabrani dari Ali bin Abi Thalib RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Didiklah anak-anakmu atas tiga hal: mencintai nabimu, mencintai ahli baitnya dan membaca Alquran. Jangansampai meninggalkan generasi yang lemah ilmu, agama dan akhlaknya. Jangan sampai meninggalkan generasi yang lemah ilmu, agama dan akhlaknya. 爐DOA YANG PALING MUSTAJAB Tahukah kita, dalam hadith nabi memaklumkan terdapat 1 doa yang sangat mustajab. Walaupun kita telah pergi meninggalkan MendidikAnak Sesuai Zamannya. “Didiklah anak-anakmu, karena mereka akan hidup pada zaman yang berbeda dengan zamanmu,” demikian pesan Khalifah Kedua Umat Islam, Umar Sayyidina Ali Karramallahu wajhah berkata : Didiklah anak-anakmu dengan pendidikan yang berbeda dari zaman dimana engkau mengenyam pendidikan, karena mereka hidup kendati Islam mendorong umatnya memahami ilmu agama, sains, dan teknologi secara bersamaan, kenyataan di banyak negara mayoritas muslim 1 Rosidi dkk, KonsepPendidikan Agama Islam Tentang Pendidikan Akhlak dalam Keluarga: Studi Kasus Keluarga Fatayat Nu Kec. Pendidikan Keluarga Menurut Ki Hajar Dewantara dan Relevansinya dengan Pendidikan Islam. Palembang: Noer Fikri. Said Ali Syalwan, Y. i. (2003). Wahai Ayah dan Ibu Didiklah Anakmu. Yogyakart: Menara Kudus. Salsabila, K., & Firdaus, A Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya. Sungguh mereka akan menghadapi masa yang berbeda dari masamu.” Agama, dan Budaya", 2013) vi sepenanggungan menjalani hidup untuk menuntut ilmu, merasakan suka maupun duka bersama, mengajarkan keceriaan sepanjang waktu, serta tegar dan ikhlas dalam menjalani RasulullahSAW bersabda, “Muliakanlah anak-anakmu dan didiklah mereka dengan budi pekerti yang mulia.” (HR. Ibnu Majah). Rasulullah SAW sangat perhatian terhadap urusan pendidikan anak terkait pengenalan mereka 1Oog. Oleh Stefanus Widananta Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan Efesus 6;4 Mendidik anak adalah salah satu tugas dari orang tua, namun sayangnya banyak orang tua yang lebih mementingkan pendidikan intelektual daripada spiritual. Orang tua lebih takut dan kuatir kalau anaknya tidak pintar secara intelektual dan miskin secara materi, daripada tidak memiliki iman yang baik dan bertumbuh. Anak bagaikan kertas kosong ketika mereka dilahirkan, jika kita mendidik dengan warna yang salah, maka mereka akan terbentuk dengan warna yang salah juga. Ketika kita mendidik mereka untuk takut kepada Tuhan, maka didikan itu mendatangkan hikmat. Firman Tuhan mengingatkan kita agar mendidik anak-anak kita di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. Bangsa Israel melakukan pendidikan kepada anak-anaknya untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan segenap jiwa dan dengan segenap kekuatan, secara berulang-ulang dan membicarakan kebenaran firman Tuhan dengan anak-anak mereka, ketika mereka duduk di rumah, ketika mereka sedang dalam perjalanan, ketika berbaring dan ketika mereka bangun. Orang Israel menganggap perintah itu sebagai “syema”, suatu perintah penting yang harus sungguh-sungguh diperhatikan. Bagi orang Israel, pendidikan rohani merupakan bagian integral dari perjanjian antara Allah dan umat-Nya. Syema ini menjadi cara bagi orang tua unyuk mendidik anak-anaknya. Salomo mengatakan, “Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketentraman kepadamu dan mendatangkan sukacita kepadamu”. “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya. Tuhan Yesus memberkati. “Jangan paksakan anak-anakmu mengikuti jejakmu, mereka diciptakan untuk kehidupan di zaman mereka, bukan zamanmu” – Socrates Kutipan di atas ditulis oleh Imam Ahmad al-Syahrastani dalam kitabnya yang sangat masyhur terkait sejarah aliran-aliran pemikiran yang hingga saat ini masih menjadi rujukan, al-Milal wa al-Nihal 1404, juz 2 82. Kitab yang lahir pada masa keemasan Islam ini dapat disebut juga sebagai ensiklopedia pemikiran dan kepercayaan. Banyak yang menyandarkan perkataan tersebut kepada Imam Ali bin Abi Thalib. Namun, penyandaran ini belum dapat jelas validitasnya. Parahnya, ada yang menyebutnya sebagai hadits. Hal ini tak masalah jika hadits dimaknai sebagai sinonim dari khabar, karena sejatinya khabar dapat disandarkan kepada Nabi maupun selainnya. Salah satu yang pernah menyebutnya sebagai hadits ialah Kuntowijoyo dalam buku kumpulan essainya yang berjudul, “Selamat Tinggal Mitos, Selamat Datang Realitas” 2002 60. Dalam bukunya ia menyebutkan, “Didiklah anak-anakmu, sebab mereka akan mengalami zaman yang berbeda dengan zamanmu” hadits.Terlepas dari kontroversi kevalidannya, kata-kata di atas sebenarnya memiliki nilai yang dapat kita pegang, yaitu menata sistem pendidikan yang sesuai dengan zamannya. Barangkali kita pernah membaca perkataan sahabat Nabi, Umar bin Khattab radliyallahu anh ketika menulis untuk penduduk daerah Himsh علموا أولادكم السباحة والرماية والفروسية “Ajarilah anak-anak kalian berenang, memanah, dan menunggang kuda” Abdullah al-Qayrawâni, al-Nawâdir wa al-Ziyâdât, Dâr el-Garb al-Islâmî, juz 3, hal. 39 Atau sabda Nabi yang lain, Uqbah bin Amir Al-Juhani, sebagaimana tertulis dalam kitab Shahîh Muslim مَنْ علِمَ الرَّمْىَ ثُمَّ تَرَكَهُ فَلَيْسَ مِنَّا أَوْ قَدْ عَصَى “Siapa pun yang telah diajarkan memanah dan kemudian meninggalkannya maka dia bukan golongan kami, atau telah durhaka terhadap Nabi” HR Muslim. Dua nash di atas melambangkan aktivitas yang sangat urgen untuk dipelajari pada masa itu, yaitu berenang, memanah dan menunggang kuda. Peperangan zaman dahulu diwarnai dengan aksi saling panah, dan pasukannya menunggang kuda. Maka tidak heran jika tiga pekerjaan tadi sangat dianjurkan untuk diajarkan, bahkan ada redaksi kecaman bagi orang yang sudah mempelajari memanah kemudian dilupakan. Hadits di atas sepertinya tidak dapat diamalkan secara harfiah. Namun, makna dan nilainya dapat kita serap untuk disesuaikan dengan kebutuhan di zaman modern ini, misalnya latihan menembak dalam konteks sistem pertahanan dan keamanan atau berkendara. Barangkali tembak-menembak tidak berlaku bagi sebagian orang, namun, bagi tentara yang bertugas mendamaikan peperangan, keahlian ini sangat diperlukan. Pun kemampuan berkendara, sangat penting sekali. Tidak hanya soal perang, berkendara adalah soal transportasi yang memudahkan umat manusia untuk bepergian dan beraktivitas ke sana-sini. Relevan dengan Kebutuhan Zaman Jika kita membaca kitab kuning yang diperuntukkan bagi mubtadi`în tingkatan pemula pada masanya, selalu terdapat redaksi yang menyebut bahwa teks kitab tersebut diperuntukkan bagi pemula agar mereka mudah menyerap isinya. Misalnya dalam kitab Matn al-Taqrîb karya al-Qâdhi Abû Syujâ’ menyebutkan سألني بعض الأصدقاء حفظهم الله تعالى، أن أعمل مختصرا في الفقه على مذهب الإمام الشافعي رحمة الله عليه ورضوانه، في غاية الاختصار ونهاية الإيجازليقرب على المتعلم درسه ويسهل على المبتدئ حفظه ، وأن أكثر من التقسيمات وحصر الخصال “Aku diminta oleh sebagian teman untuk menyusun ringkasan fiqih mazhab Syafi'i yang sangat ringkas dan sederhana, dan memperbanyak pembagian yang sistematis agar mudah dipelajari dan dihafal oleh mubtadiîn” Qâdhi Abu Syujâ’, Matan al-Ghâyah wa at-Taqrîb, Alam al-kutub, h. 2. Begitupun dalam Nadham al-Imrîthî, Syekh Syarafuddin menyebutkan نَظَمْتُهَا نَظْمًا بَدِيعًا مُقْتَدِي ۞ بِالْأَصْلِ فِي تَقْرِيبِهِ لِلْمُبْتَدِي “Kitab tersebut aku jadikan nadham yang indah, dengan mengikuti kitab asalnya untukmemudahkan para pemula yang belajar ilmu nahwu.” وَقَدْ حَذَفْتُ مِنْهُ مَا عَنْهُ غِنَى ۞ وَزِدْتُهُ فَوَائِدًا بِهَا الْغِنَى “Aku telah membuang sebagian yang kurang perlu, dan aku tambahkan beberapa faidah yang cukup penting.” Dari dua contoh di atas kita dapat mengambil beberapa kesimpulan dalam penyesuaian pendidikan. Pertama, bagi seorang pemula hendaknya pelajaran diringkas dan tidak bertele-tele. Kedua, bentuknya dibuat pembagian-pembagian supaya sistematis. Ketiga, menggunakan metode pendekatan sesuai kapasitas pelajar, seperti dikatakan dalam Imrithi, fî taqrîbihi lil mubtadî. Keempat, melihat dari nadham Imrithi, bagi seorang pelajar ketika itu, nadham merupakan bentuk teks yang memudahkan untuk dipelajari, dihafal, dan dipahami. Kelima, ajarkan apa yang diperlukan oleh murid. Dua kitab di atas merupakan contoh dari kurikulum yang mengikuti masanya. Dan kurikulum masa lalu belum tentu cocok seluruhnya dengan masa sekarang, dengan banyaknya pergeseran keadaan, tradisi, dan budaya. Para ulama sekarang mungkin tidak semestinya semuanya menyusun kitab berbentuk nadham, cukup berbentuk natsr teks biasa saja, karena sulitnya memahami pelajaran lewat nadham. Sekolah-sekolah umum tidak mesti mewajibkan semua muridnya mempelajari ilmu faraidh yang mendalam dilihat dari kebutuhan para siswa, karena di pesantren ilmu tersebut sudah diajarkan kepada para santri yang dikira lebih membutuhkan. Melihat kepada pendidikan di masa pandemi seperti saat ini, perlu juga adanya penyesuaian pendidikan sebagaimana keadaan yang ada. Inovasi pendidikan berbasis teknologi atau platform yang mendukung pembelajaran merupakan sebuah keniscayaan. Apalagi ada gejala pelajaran yang makin berkurang di tengah pandemi, karena kurang dekatnya interaksi antara guru dan murid sebagai efek pembelajaran di rumah melalui aplikasi. Di sisi lain, gerakkan penyesuaian pendidikan tidak dapat berjalan tanpa ada bantuan dari pemerintah, entah berupa sistem, pengarahan, maupun dukungan finansial. Akhir-akhir ini kita sering mendengar keluhan pelajar yang belajar dari rumah, mulai dari tugas yang diberikan begitu berat, tugas hanya menyalin buku sebanyak-banyaknya, jam pelajaran yang sama seperti biasanya, tidak memiliki kuota karena kurang mampu membelinya, bahkan tidak memiliki perangkat untuk pembelajaran daring. Dari fenomena ini masih banyak lagi yang perlu diperhatikan dan diperbaiki dari sistem pembelajaran di tengah pandemi, yang menyesuaikan keadaan dan kebutuhan para pelajar. Sedikit demi sedikit perbaikan dalam sistem pembelajaran dapat melihat dari penyusun kitab seperti contoh di atas, bagaimana mereka menyesuaikan materi kepada para pelajar, yang akhirnya pelajaran tersebut dapat dikuasai para murid dan bermanfaat bagi orang banyak. Amien Nurhakim, Mahasantri Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus-Sunnah Ciputat, Tangerang Selatan didik anak sesuai zamannya eliawati sd silaturahim islamic school Didik anak sesuai zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan pada zamanmu. Mendidik dan membesarkan anak adalah amanah Allah Swt yang harus dijalankan dengan sebaik-baiknya. Banyak hal yang harus diperhatikan untuk menentukan pola pendidikan yang terbaik bagi masing-masing anak, apalagi mereka tidak hidup di zaman dahulu. “Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan pada zamanmu”. Demikian kata Ali bin Abi mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian Artinya, ilmu itu bersifat dinamis dan tidak tetap, keberadaannya menyesuaikan dengan kondisi sekarang dan kehidupan masa depan. Sebuah pembelajaran bagi kita kalau segala sesuatu yang ada di dunia ini serba berubah, sesuatu yang hari ini adalah hal yang istimewa bagi kita di waktu 10 atau 20 tahun mendatang bisa jadi hanya hal yang biasa-biasa saja, sesuatu yang hari ini mustahil bisa jadi suatu saat nanti 10 atau 20 tahun mendatang adalah hal yang sangat mudah sekali. “Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya” ketika zaman berubah tentu tantangannya pun berubah, baik itu tantangan bertahan hidup, tantangan dalam pergaulan, tantangan dalam menuntut ilmu serta tantangan lainnya. Perubahan zaman ini pun berdampak pada perubahan cara kita mendidik dan berkomunikasi dengan anak. Persiapkan anak kita untuk siap menghadapi zamannya bukan zaman kita. Ali bin Abi Thalib Ra. Mengelompokan menjadi 3 cara dalam memperlakukan anak 1. Didik anak sesuai zamannya Usia 0-7 tahun perlakukan anak-anakmu sebagai raja. Melayani anak di bawah usia 7 tahun dengan sepenuh hati dan tulus adalah hal terbaik yang dapat kita lakukan. Banyak hal kecil yang setiap hari kita lakukan ternyata akan berdampak sangat baik bagi perkembangan perilakunya. 2. Anak sebagai tawanan usia 8-14 tahun Kedudukan seorang tawanan perang dalam islam sangatlah terhormat. Ia mendapatkan haknya secara proporsional, namun juga dikenakan berbagai larangan dan kewajiban. Usia 7-14 tahun adalah saat yang tepat dan pas bagi anak-anak kita untuk diperkenalkan dan diajarkan tentang hal-hal yang terkait dengan hukum-hukum agama, baik yang diwajibkan maupun yang dilarang. 3. Anak sebagai sahabat usia 15-21 tahun Usia 15 tahun adalah usia umum saat anak menginjak akil baligh. Sebagai orang tua kita sebaiknya memposisikan diri sebagai sahabat dan memberikan contoh atau teladan yang baik seperti Berbicara dari hati ke hati Memberi ruang lebih setelah memasuki usia akil baligh agar anak tidak merasa terkekang, namun tetap dalam pengawasan kita. Mempercayakan tanggung jawab yang lebih berat, waktu usia 15-21 tahun ini penting bagi kita untuk memberinya tanggung jawab yang lebih berat dan lebih besar, dengan begini kelak anak-anak kita dapat menjadi pribadi yang cekatan, mandiri, bertanggung jawab dan dapat diandalkan. Demikian lah proses belajar bersama yang harus kita lakukan, semoga kita para orang tua, guru, dan orang dewasa dapat memberikan perlakuan yang tepat pada anak-anak kita, siapapun mereka, dari manapun mereka berasal, dan dimanapun mereka berada, karena anak-anak adalah tanggung jawab kita semua. Oleh Eliawati, Guru SD Silaturahim Islamic School Kunjungi juga Post Views 169

didiklah anakmu dengan ilmu agama